Dugaan Pencemaran Udara dari Cerobong PT Semen Baturaja Disorot, Tim FRIC Sumsel Datangi Lokasi, Humas Belum Beri Penjelasan

oleh -571 Dilihat
oleh

Baturaja, Sumsel – Hudhudnews.co Semburan debu yang terlihat keluar dari salah satu cerobong pabrik PT Semen Baturaja kembali menjadi sorotan. Kepulan asap debu berwarna abu-abu tersebut tampak cukup tebal dan terlihat secara kasat mata pada Rabu (19/8/2026) sore, di tengah kondisi cuaca panas dan musim kemarau di Baturaja Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai sumber kepulan debu, karakteristik emisi, serta efektivitas sistem pengolahan debu dan emisi yang diterapkan perusahaan apakah sesuai standarisasi. Namun, pengamatan secara visual belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya pencemaran atau pelanggaran lingkungan. Untuk memastikan hal tersebut, diperlukan penjelasan teknis dan data hasil pemantauan serta uji lab dari pihak perusahaan maupun instansi berwenang yang mana Dinas lingkungan Hidup( DLH ). Baik kabupaten maupun Provinsi.

Menindaklanjuti informasi dan sorotan masyarakat yang berkembang, termasuk dokumentasi kepulan limbah asap debu yang beredar, Tim FRIC Sumsel mendatangi kawasan PT Semen Baturaja pada Rabu (19/8/2026). Kedatangan tersebut bertujuan melakukan penelusuran lapangan sekaligus meminta klarifikasi resmi kepada pihak perusahaan, khususnya terkait kepulan yang terlihat keluar dari cerobong.

Saat tiba di kawasan perusahaan, tim terlebih dahulu menuju Pos 1. Namun, petugas keamanan mengarahkan tim untuk menyampaikan keperluan melalui Pos 2. Tim kemudian menuju Pos 2 dan mengetuk pintu penjagaan. Saat itu belum terlihat petugas di dalam pos sehingga tim menunggu sembari mengamati kondisi sekitar.

Dalam proses menunggu, tim melihat langsung kepulan yang keluar dari salah satu cerobong pabrik. Kondisi tersebut kemudian didokumentasikan sebagai bagian dari penelusuran dan bahan konfirmasi kepada pihak perusahaan.

Tidak lama kemudian, seorang petugas keamanan datang dan menanyakan maksud kedatangan tim serta alasan melakukan peliputan di sekitar kawasan pabrik. Tim menjelaskan bahwa kedatangan tersebut merupakan bagian dari tugas jurnalistik untuk melakukan penelusuran dan meminta konfirmasi atas informasi yang sedang menjadi perhatian publik.

Tim juga menyampaikan bahwa pihak yang hendak ditemui adalah humas PT Semen Baturaja guna memperoleh penjelasan resmi mengenai kepulan yang terlihat dari cerobong, termasuk apakah kondisi tersebut merupakan bagian normal dari proses produksi dan bagaimana mekanisme pengendalian emisinya.

Petugas keamanan kemudian mempersilakan tim menunggu di Pos 2. Dalam kesempatan tersebut, tim tetap berupaya mendapatkan akses komunikasi dengan pihak humas agar persoalan tersebut dapat diberitakan secara berimbang dan tidak hanya berdasarkan pengamatan visual di lapangan.

Tim FRIC Sumsel juga mempertanyakan aspek teknis yang menjadi perhatian, terutama terkait standar emisi, sistem pengendalian debu, serta hasil pemantauan kualitas udara di sekitar kawasan pabrik. Pertanyaan tersebut dinilai penting karena terdapat permukiman dan aktivitas masyarakat di sekitar kawasan industri yang membutuhkan kepastian mengenai kondisi lingkungan mereka.

Dalam proses tersebut, seorang pria yang mengaku security dan juga mengaku sebagai wartawan turut datang dan mempertanyakan kegiatan dokumentasi yang dilakukan tim, termasuk apakah tim telah memperoleh izin untuk melakukan peliputan.

Tim menjelaskan bahwa dokumentasi dilakukan untuk mendukung proses penelusuran jurnalistik dan sebagai bahan konfirmasi atas informasi yang sedang menjadi sorotan masyarakat. Tim menegaskan bahwa tujuan kedatangan bukan untuk membuat kesimpulan sepihak, melainkan meminta penjelasan dari pihak yang memiliki kewenangan memberikan informasi resmi.

Beberapa petugas keamanan kemudian berada di Pos 2. Salah seorang petugas menyampaikan bahwa kepulan yang keluar dari cerobong tersebut merupakan bagian dari proses yang biasa terjadi dan memang dikeluarkan melalui cerobong pabrik.

Keterangan tersebut kemudian dipertanyakan oleh tim. Tim meminta penegasan apakah pernyataan tersebut merupakan keterangan resmi perusahaan dan dapat dipertanggungjawabkan apabila digunakan sebagai bagian dari pemberitaan.

Tim menilai penjelasan mengenai proses produksi dan emisi seharusnya diperoleh dari pihak yang memiliki kewenangan teknis atau humas perusahaan. Hal ini penting agar publik mendapatkan informasi yang akurat mengenai apa yang sebenarnya keluar dari cerobong dan bagaimana perusahaan memastikan emisi tersebut berada dalam batas yang dipersyaratkan.

Tim kembali menegaskan bahwa tujuan utama kedatangan bukan meminta penjelasan teknis kepada petugas keamanan, melainkan menemui pihak humas PT Semen Baturaja untuk memperoleh klarifikasi resmi.

Ketika ditanyakan mengenai keberadaan humas, petugas keamanan menyampaikan bahwa pihak humas sedang tidak berada di lokasi. Tim kemudian ditanya apakah sebelumnya telah membuat janji untuk bertemu.

Tim menjelaskan bahwa kedatangan tersebut belum didahului perjanjian karena sifatnya merupakan permintaan konfirmasi atas persoalan yang sedang menjadi perhatian masyarakat. Untuk membuka ruang komunikasi, petugas keamanan kemudian menyarankan agar tim meninggalkan nomor kontak untuk diteruskan kepada pihak humas.

Tim FRIC Sumsel selanjutnya meninggalkan nama dan nomor WhatsApp dengan harapan pihak perusahaan dapat memberikan tanggapan dan klarifikasi secara resmi.

Namun, hingga berita ini ditulis, belum ada pihak humas PT Semen Baturaja yang menghubungi Tim FRIC Sumsel untuk memberikan penjelasan terkait kepulan yang terlihat keluar dari cerobong tersebut.

Kondisi ini membuat sejumlah pertanyaan publik masih belum terjawab. Di antaranya, apakah kepulan yang terlihat merupakan emisi yang lazim dalam proses produksi, jenis material yang terkandung di dalamnya, bagaimana sistem pengendalian partikulat bekerja, serta bagaimana hasil pemantauan emisi dan kualitas udara di sekitar kawasan pabrik.

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting untuk dijawab secara terbuka karena kepulan terlihat cukup jelas dari luar kawasan pabrik. Kendati demikian, perlu ditegaskan bahwa ada atau tidaknya pencemaran udara tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan warna, ketebalan, atau pengamatan visual terhadap kepulan. Pembuktian memerlukan data teknis, pengukuran, serta pemeriksaan oleh pihak yang berwenang.

Tim FRIC Sumsel menegaskan bahwa dokumentasi dan penelusuran dilakukan untuk memperoleh informasi yang berimbang. Tim juga meminta kejelasan mengenai proses pengelolaan dan pengendalian emisi PT Semen Baturaja, termasuk jaminan bahwa emisi yang dilepaskan telah memenuhi ketentuan dan tidak menimbulkan risiko terhadap lingkungan maupun masyarakat sekitar.

Pihak PT Semen Baturaja tetap memiliki ruang yang luas untuk memberikan klarifikasi. Perusahaan diharapkan dapat menjelaskan secara terbuka mengenai penyebab munculnya kepulan, proses produksi yang berlangsung saat kejadian, sistem pengendalian debu dan emisi, hasil pemantauan lingkungan, serta kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan yang berlaku.

Hingga berita ini diterbitkan, penjelasan resmi dari humas PT Semen Baturaja masih ditunggu. Klarifikasi perusahaan menjadi penting agar persoalan kepulan dari cerobong tersebut tidak berkembang menjadi spekulasi dan masyarakat memperoleh informasi yang utuh, akurat, serta berimbang.
Tim FRIC

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.