HUD HUDLAMPUNG UTARA – Pemerintah secara nasional menargetkan revitalisasi mencakup hingga 71.744 satuan pendidikan pada tahun 2026, dengan fokus prioritas pada sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan tingkat sedang hingga berat. Program ini juga menyasar sekolah swasta, salah satunya SMA/SMP Slamet Riyadi Kotabumi di bawah naungan Yayasan Pendidikan Katholik Nasional Genti Aras.
Namun, pelaksanaan pekerjaan di sekolah terakreditasi B yang beralamat di Jl. Mangga Besar, Kelurahan Tanjung Harapan, Kecamatan Kotabumi Selatan, Kabupaten Lampung Utara ini justru menuai sorotan dan keluhan dari masyarakat sekitar.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Kamis (1/10/2026), pengerjaan proyek revitalisasi fisik tersebut berjalan tanpa memasang papan informasi proyek. Tidak tampaknya papan pengerjaan yang memuat besaran pagu anggaran serta sumber dana membuat proyek ini disinyalir sebagai proyek siluman karena mengabaikan transparansi publik.
Saat awak media berupaya melakukan konfirmasi mengenai pelaksanaan pengerjaan tersebut ke pihak sekolah, tidak ada perwakilan pimpinan maupun pengurus yayasan yang berada di tempat. Di lokasi kegiatan, awak media hanya mendapati para pekerja bangunan.
”Maaf mas, pak bos masih di Bandar Lampung,” ujar salah satu pekerja di lokasi pengerjaan proyek.
Di wawancara terpisah, salah satu tokoh masyarakat setempat, (LB), mengungkapkan bahwa warga lingkungan sekitar sama sekali tidak dilibatkan dan tidak diberi tahu terkait adanya aktivitas pembangunan tersebut.
”Nggak tahu saya proyek apa, saya juga tidak tahu karena pernah saya tengok papan informasi proyeknya juga tidak ada,” ungkap Laksamana.
Selain persoalan transparansi pengerjaan, inisial (LB) menuturkan keberadaan aktivitas di sekolah tersebut kian meresahkan warga. Pihak yayasan dinilai membiarkan anjing-anjing peliharaan berkeliaran bebas di pemukiman warga tanpa pengawasan.
”Mereka melepaskan anjing-anjing yang membuat kami resah. Sandal saya saja hilang, di depan mata saya lihat sendiri anjing mereka yang menggigit sandal-sandal di depan rumah. Untung saja sandal, kalau anak-anak yang digigit bagaimana? Bisa kena penyakit rabies,” keluhnya dengan nada kesal.
(LB) juga menegaskan bahwa warga sangat terganggu oleh suara bising yang dihasilkan dari aktivitas material dan pengerjaan konstruksi sejak pengerjaan dimulai. Pihak yayasan dinilai tidak memiliki iktikad baik untuk berkoordinasi atau meminta izin lingkungan kepada warga setempat.
”Seharusnya pihak yayasan izin dan berkoordinasi ke warga sekitar lingkungan kalau di sekolah itu akan ada aktivitas pembangunan. Ini malah sampai hari ini tidak ada. Makanya kemarin pagi saya sempat emosi dan mendatangi pihak yayasan pendidikan tersebut akibat ketidaknyamanan kami warga sekitar,” tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Yayasan Pendidikan Katholik Nasional Genti Aras maupun pengelola SMA/SMP Slamet Riyadi Kotabumi belum memberikan klarifikasi resmi terkait tidak adanya papan proyek serta keluhan dari warga sekitar. (Tim/Red)
Diduga Tanpa Papan Informasi dan Lepaskan Anjing Resahkan Warga, Proyek Revitalisasi Sekolah Swasta di Lampung Utara Disorot
